Hadits Dlaif Seputar Keutamaan Qurban
Setelah diteliti, ternyata hadits-hadits yang menerangkan mengenai keutamaan qurban banyak yang dlaif (lemah). Sehingga hadits-hadits tersebut tidak bisa dijadikan dasar keutamaan berqurban.
Namun demikian, bukan berarti kita tidak perlu melaksanakan qurban. Hukum melaksanakan qurban adalah sunnah muakkadah, sedangkan untuk keutamaanya, mungkin tidak perlu kita perdebatkan karena hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui.
Berikut ini beberapa hadits dlaif mengenai keutamaan berqurban.
Tidak ada amal anak Adam pada hari Nahr (‘Idul Adha) yang paling disukai Allah ‘Azza wa Jalla selain daripada menyembelih qurban, qurban itu akan datang kepada orang-orang yang melakukannya pada hari qiyamat seperti semula, yaitu lengkap dengan anggotanya, tanduk, kuku dan bulunya. Darah qurban itu lebih dahulu jatuh ke suatu tempat yang disediakan Allah ‘Azza wa Jalla sebelum jatuh ke atas tanah. Oleh sebab itu, berqurbanlah kalian dengan senang hati.
(HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1045, dlaif, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Abul Mutsanna, yang nama aslinya Sulaiman bin Yazid)
Dari Zaid bin Arqam, ia berkata : Para shahabat Rasulullah SAW bertanya, “Ya Rasulullah, apakah udlhiyah itu ?” Jawab Nabi SAW, “Itulah sunnah ayahmu, Ibrahim”. Mereka bertanya, “Apa yang kita peroleh dari udlhiyah itu, ya Rasulullah ?” Jawab beliau, “Pada tiap-tiap helai bulunya kita peroleh satu kebaikan. Lalu para shahabat bertanya, “Bagaimana dengan bulu domba, ya Rasulullah ?” Beliau SAW bersabda, “Pada tiap-tiap helai bulu domba kita peroleh satu kebaikan”.
(HR. Ibnu Majah 2 : 1045, dlaif, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Abu Dawud yang nama aslinya Nufai’ bin Al-Harits dan ‘Aaidzullah)
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berqurban tetapi tidak mau melaksanakannya, maka janganlah ia dekat-dekat ke tempat shalat kami”.
(HR. Ahmad juz 3, hal. 207, no. 8280)
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai kelapangan rezqi, tetapi tidak berqurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami”.
(HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1044, no. 3123, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Abdullah bin ‘Ayyaasy)



btw about idul adha, saya lbh suka menyebut ‘menyembelih’ daripada ‘berkurban’ karena hakikatnya dagingnya kita makan, bukan untuk sesembahan. Allah tidak butuh daging yg kita sembelih, namun nilai ketaqwaan atas penyembelihan itu.
Nice Tauziah gan..
bwt mbak lady: sejak kapan “berkurban” saat idul adha di ganti dengan kata “menyembelih ” saja.
Klo bgitu, besuk kalo mbak berkurban, di niati menyembelih saja yaa….(aya2 wae….)
hadist di dhaif2 ke, podho ae nglemah2 ke dawuhe Kanjeng Nabi, wani tenan…..????
hadist di dhaif2 ke, podho ae nglemah2 ke dawuhe Kanjeng Nabi, wani tenan…..????
>>>>> makanya ngaji bro biar ngerti
kadang ulama 1 dg yg lain bisa berbeda penilaian dlm memandang sebuah hadis.dlm menyikapi hadis dhoif pun antara wahabi aswaja syiah khawarij dll.ada perbedaan tentang boleh dan tdknya…….salam damai……
tetanggaku dulu sekjen mta…..aku salut padanya.guruku syuriah di nu aku sangat hormat pd beliu……..masing masing punya keistimewaan.guruku yg lain adalah tokoh muhammadiyah mengamalkan yasinan dan tahlilan ala nu.walau oleh oleh mta di pandang haram.gontor banyak menghasilkan ulama yg moderat………….indonesia mengekspor paham nu yg tawasut.mahasiswa indonesia lulusan makah mengimpor paham wahabi ke indonesia.sekarang siapa ya yg menjembati paham aswaja dan wahabi biar damai kayak lagunya mbah surip………he he he…………………….salam damai