MP3 dan Rejeki Artis
Kehadiran format musik MP3 berhasil menjadikan lesunya pasar kaset dan cd. Mudahnya musik dicopy dari satu media ke media lain membuat orang malas untuk membeli kaset. Lagipula kaset maupun cd cukup ribet, tidak seperti mp3 yang bisa kita susun lagu-lagu yang kita sukai ke dalam playlist media player, dan mendengarkan semuanya tanpa harus mengganti-ganti kaset atau cd.
Apakah ini berarti hancurnya dunia musik? Para artis juga gencar menyerukan anti pembajakan. Namun gadget-gadget mp3 semakin bertebaran jenisnya, bahkan ponsel dengan kemampuan mp3 pun kini umum ditemui.
Ternyata hal yang ditakutkan artis tidak terbukti. Para artis tidak lantas menjadi miskin dengan adanya pembajakan. Artis masih bisa mengais rejeki dari pertunjukan live. Rejeki berkurang, itu hal biasa dalam kehidupan. Jaman sudah berubah, artis musti lebih kreatif lagi dalam mencari uang.
Sebenarnya masih banyak alternatif lain yang bisa ditempuh artis. Tidak harus menggantungkan diri pada penjualan kaset. Salah satu contohnya, video klip bisa jadi media iklan, seperti poster Extra Joss yang ada di video klip Ungu.
Kehadiran Ring Back Tone juga bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Sebut saja Maia dan Mulan Jameela yang terang-terangan mengakui album barunya membidik pasar RBT.
Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan adanya mp3. Apa yang disebut sebagai pembajakan, sebenarnya memang seperti itulah karakteristik format mp3: bebas dicopy, digandakan, didengarkan dan dinikmati. Di dunia modern ini sudah nggak jamannya lagi artis menggantungkan diri dari jualan kaset. Artis harus lebih kreatif untuk mengisi periuk nasinya. Makanya, belajarlah dari Open Source, bagaimana barang yang gratis bisa menghasilkan uang dan kebahagiaan.



Leave a Reply