Selamat Tinggal, Plurk…

Plurk adalah layanan jejaring sosial dan microblogging untuk menampilkan aktivitas penggunanya berdasarkan jam dan waktu (timeline). Kita dapat menceritakan kegiatan yang sedang kita lakukan agar bisa diketahui oleh orang yang lain.
Baru beberapa bulan diluncurkan, Plurk langsung mendapat tempat di hati pengguna Internet di Indonesia. Ketika teman-teman mulai ngeplurk, saya juga tertarik untuk mencobanya. Pertama kali mencoba, ternyata ngeplurk memang menyenangkan. Kita bisa mengetahui kegiatan teman-teman kita walaupun tidak pernah bertemu muka. Kita juga bisa mengirimkan postingan singkat mengenai aktivitas atau apa yang sedang kita pikirkan, atau sekedar mengomentari postingan teman.
Plurk menerapkan sistem karma untuk mempertahankan loyalitas penggunanya. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan di Plurk, maka nilai karma akan semakin naik, dan semakin banyak pula fasilitas yang akan kita dapatkan. Sistem karma ini akan mendorong penggunanya untuk terus aktif di Plurk.
Namun kini yang saya rasakan, dengan semakin bertambahnya teman di Plurk, aktivitas di Plurk sudah tidak lagi sesuai dengan slogannya: Your life, on the line. Plurk tidak lagi menjadi ajang menceritakan kehidupan dan kegiatan sehari-hari. Plurk kini lebih menjadi sekedar ajang chatting dengan topik bahasan yang tidak jelas, dan dengan komentar-komentar yang tidak jelas pula. Sistem karma membuat Plurker menggebu-gebu mengirimkan postingan, komentar, dan mencari teman sebanyak-banyaknya, demi mendapatkan emoticon baru dan fasilitas lainnya. Namun postingan tersebut lebih banyak menjadi noise yang hanya sekedar chit-chat saja.
Saya pun juga seperti itu. Namun semangat ngeplurk itu hanya sebentar saja, setelah itu saya mulai bosan dengan banyaknya postingan yang kurang bermutu, termasuk postingan saya sendiri. Ditambah lagi dengan nama pengguna yang kebanyakan berupa nickname, saya melihat Plurk seperti kembali ke masa-masa chatting melalui IRC yang sempat booming di waktu lalu.
Saya kini mulai mengalihkan perhatian ke Facebook yang semakin menarik dengan tampilan barunya yang microblogger-friendly. Fasilitas status di Facebook memungkinkan kita mengirimkan postingan mengenai aktivitas atau pemikiran singkat kita, dan teman-teman juga bisa mengirimkan komentarnya. Update status terbaru kita juga bisa ditampilkan di blog dengan mudah sebagai RSS Feed, sehingga orang lain yang belum bergabung di Facebook juga bisa melihat status kita melalui blog.
Status yang ditampilkan di Facebook saya lihat lebih bermutu daripada postingan di Plurk, walaupun ada juga satu-dua noise yang kadang muncul. Apalagi teman-teman di Facebook kebanyakan adalah teman akrab yang sudah saya kenal sejak lama di ranah offline, maka atmosfirnya sangat berbeda dengan Plurk, dimana teman-teman Plurk saya kebanyakan adalah teman di dunia maya yang jarang bertemu secara langsung.
Jika Plurk hanya fokus ke layanan microblogging saja, maka di Facebook, microblogging hanyalah sebagian kecil dari banyaknya layanan yang ditawarkan sebagai situs jejaring sosial. Sebagai bonusnya, kita bisa mengenal seseorang secara personal melalui Facebook dengan melihat profil dan foto-fotonya — suatu hal yang tidak bisa kita lakukan di Plurk.
Sampai sekarang sepertinya Plurk belum menemukan model bisnis apa yang akan dijalankan. Hingga saat ini, semua layanan Plurk masih dapat kita nikmati secara gratis, dan tanpa iklan. Saya malah khawatir suatu saat Plurk akan tutup karena tidak kuat membayar biaya operasionalnya. Maka, sebelum tutup, saya ucapkan selamat tinggal kepada Plurk. Goodbye, Plurk!



Saya juga sudah jenuh dengan plurk, meskipun sesekali masih mengupdatenya. Saya rasa, plurk sekarang sudah mulai sepi, paling tidak itu yang saya rasakan
plurk saya error trus,,,,,,,,,,,,,,,,jadi males up date!!
makanya saya gak suka plurk..
saya tidak mengerti apa itu plurk…. ngikut komen aja ya… he he he
gimana kabarnya iyan
iya..plurk gak jauh beda ama status di facebook..
tapi saya make plurk karena bisa diintegrasikan dengan facebook, fs, twitter, dll…
jadi, sekali update…semua bisa update…
lebih praktis sich…
aku kok gak punya plurk ya..
iya mas.. bosen ngeplurk, paling cuma update bentar trz sign out.. padahal baru beberapa bulan aja ngeplurk, begitu juga dengan facebook, twitter semuanya bikin bosen..
klo gw malah sekarang bosen sama facebook,, pertama berat untuk dibuka, kedua hmmmhh dah bosen ajah,, gitu-gitu doank,, asikan plurk hehehe soale emoticonnya lucu bisa begerak-gerak.. klo status di fb kan ga ada emoticonnya
Well, that’s what you think ’cause you only see how people plurk in Indonesia …
Coba deh lo liat ke plurk2 orang2 yang bener2 punya jiwa plurking. For example: Olivia, Sasha, and Rosanna Bell – Owners of http://www.plurklayouts.com.
Mreka ga mikirin karma, dan mereka udah set some rules buat responder di plurk mereka. And because of that, people jadi berusaha untuk plurking dengan cara yang bener di plurk mereka…And also, mereka juga kreatif, super kreatif. Mereka website yang nyediain layout buat plurk yang paling populer diantara website penyedia layout plurk lainnya. So, not all people are plurking in a wrong way,
Jadi intinya, harusnya yang ngepost hal ini lebih spesifik lagi. Plurk bakalan “Ga bener” gara2 orang2 tertentu, ga semua orang. Jadi tinggal pinter2 kita ngepilih friends and fans.
Makasih
iya cuy bosen plurk,twitter
tpi FS waktu itu gw liat lgi eh ternyata fs sekarang bisa chat….
walaupun gak ada yg ol…
trus gw logout lgi deh
emank yg plg enak ya FB
saya setuju bgd yah sekarang cuma buat pnghibur hati aja dan untung nya saya tidak bgitu peduli dngan karma nya..hhhe
plurknya entah sudah berapa lama nga buka
mendingan FB