Tahun Baru Tanpa Terompet
Biasanya kita merayakan pergantian tahun dengan meniup terompet. Tahun kemarin saya merayakannya di Tawangmangu, dengan pesta kembang api yang sangat meriah. Namun tahun baru ini sepertinya kita harus sedikit menahan diri. Di tengah penderitaan sahabat-sahabat kita yang sedang menghadapi musibah tanah longsor di Tawangmangu, serta banjir di sekitar sungai Bengawan Solo dan juga di berbagai kota di Indonesia, rasanya kurang sip jika kita tertawa-tawa sedangkan orang lain berduka.
Tahun baru ini saya di Balikpapan. Setelah berlebaran di Bontang, sholat Iedul Adha di Balikpapan, kini tahun baru pun harus jauh dari keluarga.
Memang itulah tuntutan hidup, demi sesuap nasi. Yang penting anak istri masih bisa makan, mau tahun baru di manapun tidak ada masalah.
Saya berangkat malam nanti, dengan rute perjalanan yang cukup jauh. Dari Solo ke Surabaya naik kereta api, kemudian nongkrong dulu di banadra sampai siang. Baru kemudian naik pesawat, itu pun jika tidak ada masalah.
Sambil nunggu kereta, nulis blog dulu
Biasanya saya berangkat lewat Jogja, ataupun kalau terpaksa harus lewat Surabaya, biasanya saya naik bis Sumber Kencono yang murah meriah. Namun berhubung tiket lagi mahal-mahalnya, ditambah lagi banjir menghadang, terpaksa deh cari alternatif lain, yaitu naik kereta ke Surabaya. Sebelumnya saya belum pernah naik kereta ke Surabaya. Entah nanti bagaimana sesampainya di Stasiun Gubeng, mau naik apa ke bandara, saya pun tidak tahu. Yang penting modal nekat saja.
Sementara hujan semakin deras. Mungkin air naik lagi. Kemarin saya sempat nyemplung di lokasi banjir, menggendong adik saya untuk diungsikan ke rumah yang untungnya tidak terkena banjir.
Semoga saja banjir segera surut, dan kehidupan bisa kembali normal. Akhir kata, selamat tahun baru 2008, semoga kita semakin diberi kesabaran dalam menghadapi berbagai cobaan.



Leave a Reply